Pemkab Tangerang Perkuat Mitigasi Kekeringan, Salurkan Bantuan untuk Petani
- account_circle Redaksi
- calendar_month 17 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Keterangan Foto : Petugas terkait bersama sarana pertanian yang mendukung upaya mitigasi kekeringan dan peningkatan produktivitas pertanian di Kabupaten Tangerang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SILOGISNEWS.com | TANGERANG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) memperkuat langkah mitigasi kekeringan untuk menjaga produktivitas pertanian dan ketersediaan gabah di tengah musim kemarau. Upaya tersebut dilakukan melalui penyaluran bantuan alat dan sarana produksi pertanian, pengembangan sumber air alternatif, serta pendampingan kepada kelompok tani.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengatakan pemerintah daerah terus bersinergi dengan Kementerian Pertanian RI, Dinas Pertanian Provinsi Banten, perguruan tinggi, dan berbagai instansi terkait untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian.
Menurutnya, langkah mitigasi dilakukan melalui penyediaan alat mesin pertanian (alsintan), sarana produksi pertanian (saprodi), pupuk, benih, serta penguatan infrastruktur pengairan. Pemerintah juga mendorong penyesuaian pola tanam dan penggunaan varietas padi yang sesuai dengan kondisi lahan kering.
“Untuk tahun 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang telah menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian yang bersumber dari APBD, APBN/Provinsi kepada kelompok tani. Penyaluran bantuan ini sebagai mitigasi kekeringan dalam mendukung peningkatan produktivitas padi tetap terjaga di Kabupaten Tangerang,” ujar Ujang.
Sepanjang 2026, DPKP Kabupaten Tangerang menyalurkan sejumlah bantuan pertanian kepada kelompok tani. Bantuan tersebut meliputi 44 unit traktor roda dua, 14 unit cultivator, 75 unit pompa air, dan 88 unit handsprayer. Selain itu, disalurkan pula power thresher serta berbagai sarana produksi berupa pupuk NPK sebanyak 25.825 kilogram, kompos 20.500 kilogram, pupuk organik 530.000 kilogram, pupuk organik cair 90 liter, dan benih padi sebanyak 86.900 kilogram.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu petani mempertahankan kegiatan produksi, meningkatkan efisiensi pengolahan lahan, serta mengurangi risiko penurunan hasil panen akibat keterbatasan air.
DPKP juga memberikan bantuan benih padi dari UPTD Balai Benih kepada kelompok tani dengan total mencapai 3,6 ton untuk mendukung peningkatan produktivitas dan upaya mewujudkan swasembada pangan.
Selain bantuan alat dan sarana produksi, Pemkab Tangerang memperkuat akses air untuk lahan pertanian melalui sejumlah program pengairan.
Pada 2026, bantuan Irigasi Perpompaan (IRPOM) disalurkan sebanyak 26 unit. Sistem ini menggunakan pompa bertenaga surya, diesel, atau listrik untuk mengambil air dari sumbernya dan mengalirkannya ke lahan pertanian.
“IRPOM ini sebagai salah satu intervensi Pemerintah Daerah, Kementerian Pertanian RI melalui kelompok tani untuk membantu penyediaan air dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan, mempermudah akses air yang jaraknya cukup jauh dari lahan pertanian,” jelas Ujang.
DPKP juga menyalurkan bantuan Irigasi Perpompaan Perpipaaan (IRPIP) sebanyak enam unit. Program ini ditujukan untuk mendukung pengaliran air ke lahan pertanian melalui jaringan perpipaan sesuai sistem yang digunakan.
Sementara itu, bantuan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sebanyak 22 unit telah disalurkan pada 2025. Sistem tersebut memanfaatkan air bawah permukaan melalui sumur bor untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Upaya lainnya mencakup pembangunan empat unit sumur pantek, bantuan dua unit sumur bor di sejumlah titik lahan pertanian, serta rehabilitasi jaringan irigasi tersier di 23 lokasi.
“Kami juga memberikan sumur pantek sebanyak empat unit. Sumur pantek berfungsi untuk mengairi sawah di daerah yang sulit dijangkau irigasi permukaan atau saat musim kemarau. Dinas Pertanian juga memberikan bantuan sumur bor di beberapa titik lahan pertanian sebanyak dua unit serta melakukan rehabilitasi jaringan irigasi tersier di 23 lokasi,” ungkapnya.
Berdasarkan data DPKP Kabupaten Tangerang hingga akhir September 2026, kekeringan dilaporkan terjadi di 17 kecamatan dan 53 desa, dengan luas lahan terdampak mencapai 667,05 hektare.
Dalam data yang disampaikan, tercatat lahan puso seluas 340 hektare, lahan pulih 85 hektare, lahan panen 73 hektare, serta lahan terancam kekeringan 230 hektare. Angka-angka tersebut merupakan status lahan yang dilaporkan DPKP dan memerlukan pencermatan lebih lanjut untuk memastikan rincian luas berdasarkan kategori.
Ujang menjelaskan, kondisi kekeringan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari tidak adanya hujan, keterbatasan sumber air, sumber air yang mulai mengering, hingga jarak sumber air yang cukup jauh dari lokasi persawahan.
“Penyebabnya akibat tidak ada hujan, tidak ada sumber air, terdampak sumber air tetapi sudah mulai kering, serta ada sumber air tetapi jauh dari lokasi kejadian,” jelasnya.
Pemkab Tangerang melalui DPKP terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, perguruan tinggi, mitra sektor pertanian, dan kelompok tani. Salah satu kolaborasi yang tengah berjalan melibatkan SGU, Syngenta Indonesia, dan BRIN untuk mengembangkan alternatif pola tanam yang dapat mendukung peningkatan produktivitas padi.
Melalui bantuan sarana produksi, penguatan infrastruktur pengairan, dan pendampingan pertanian, pemerintah daerah berharap petani dapat menghadapi musim kemarau dengan lebih baik, menekan risiko gagal panen, serta menjaga keberlanjutan produksi pangan di Kabupaten Tangerang.
- Penulis: Redaksi
- Sumber: Diskominfo Kab. Tangerang



Saat ini belum ada komentar